11 November 2011

Ketulusan Nurani


~ Bahkan bila suatu ketika kamu akan membenciku seumur hidupmu aku akan tetap menyayangimu dan menghormatimu, dan kamu tak perlu tahu ketulusan nuraniku.

~ Aku selalu berusaha memberi apa yang kau minta sejauh aku mampu, namun aku tak akan meminta apapun darimu. Satu hal yang aku pinta darimu, jangan meminta aku membencimu

~ Aku tak berharap rasa sayangku akan menyatukan kita dalam kehidupan saat ini, namun aku yakin kita bisa bersatu dalam kehidupan yang akan datang.

~ Semua kesendirianku, kepedihanku dan penderitaanku akan menjadikanku makin menyayangimu walau aku sadar bahwa tak mungkin menyatukan rasa kita dalam kehidupan nyata ini.

~ Lanjutkan hidupmu dan aku hanya tahu bahwa kau harus bahagia dalam kebencianmu padaku.

By Budijava Rhagagaz

09 November 2011

Rasa yang Rumit


~ Aku heran dengan rasaku ini, mengapa masih sempat tertambat dan berlabuh di dermaga yang baru kau kenal, yang seolah - olah kau pernah pernah kau datangi. Dan aku tak takut kandas di situ.

~ Terkadang aku heran dengan hati ini, terasa perih namun tetap gigih. Terasa sakit namun selalu saja bangkit. Terasa kecewa namun tak begitu terluka. Apa yang kupertaruhkan dengan hatiku kadang tak jelas bahkan gelap.

~ Hahahaha makanya jangan sok dewasa sok tegar atau sok angkuh seolah tak tersentuh, padahal masih rapuh. Keangkuhan semu hanya kamuflase dari kedewasaan semu.

~ Lebih arif bila kita dapat menikmati setiap fase perkembangan kepribadian kita secara alamiah. Berusaha menjadi diri sendiri dan bisa menempatkan diri secara proporsional. Open mind and positive thinking serta banyak membaca akan sangat membantu perkembangan kedewasaan dan berada di jalur yang benar.

~ Kemudian, jangan takut menghadapi masalah, sebab ujian kepribadian yang sebenarnya adalah bagaimana cara kita menghadapi dan menyelesaikan masalah yang kita dapatkan. Oke, tatap dan songsong kedewasaanmu.

By Budijava Rhagagaz

25 Agustus 2011

Bukan Tantangan Hanya Godaan


~ Salah satu sifat jelekku adalah terlalu mudah iba pada orang lain, sehingga hal itu kadang membawaku untuk mencampuri urusan orang lain. Maksudku memang membantu, namun kadang malah menjerumuskanku dalam pikiran dan perasaanku.
Dalam perjalanan hidup kita harus menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Sebuah keniscayaan yang tak mungkin kita hindari.

30 Juli 2011

Dangkal


~ ternyata kau hanya pandai mengeluh dan suka meratap, cengeng sehingga hanya menimbulkan belas kasihan orang lain. Naif memang kalau mendapatkan simpati dan empati dari orang lain karena rasa iba.

~ Juga masih egois dan angkuh, sulit menghargai orang lain. Keangkuhanmu lebih nyata daripada kepandaianmu. Kapan akan menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana bila dirimu tak pernah ditempa dan diuji oleh kehidupan.

~ Tapi yakinlah, memang semua itu proses yang terakumulasi dan terintegrasi.

10 Mei 2011

Perasaan Kehilangan

~ Beberapa waktu terakhi ini aku merasakan suatu perasaan hampa yang begitu dalam. Makro kosmosku sedikit terguncang, namun aku agak terlambat menyadarinya.

~Ternyata sumber semua itu adalah aku telah kehilangan. Kehilangan seseorang yang telah 86 tahun menyatu dalam kehidupannku. Alam bawah sadarku bergolak tapi aku tak menyadarinya.

~Kehilangan akan tetap terjadi
dalam tiap fase hidup kita.
Karena tak ada sesuatu yang
abadi, kecuali perubahan itu
sendiri. Satu-
satunya cara untuk
persiapkan hati kita adalah,
dengan menjaga jarak antara
perasaan dan logika untuk di
fungsikan masing-masing
pada saat yang tepat. Tidak
dengan memaksakan diri.


~Karena tak mungkin
menyuruh seseorang untuk
berhenti menangis saat orang
terkasihnya pergi. Awal
terjadinya rasa kehilangan,
ikuti sajalah kesedihan kita
seberapa jauh dia mengalir.
Jangan menentangnya.
Alirkan saja. Ikuti geraknya.Tumpahkan perasaan kita.
Karena segala sesuatu butuh
proses sealami mungkin
untuk mengeluarkan energi
negatif dan memasukan
kembali energi positif. Dengan
harapan spirit hidup kita
menyala kembali. Saat proses
pengaliran energi negatif
dalam kesedihan, boleh
vakumkan logika untuk
sementara, namun jangan
larut selamanya. Karena
kehidupan akan selalu
menanti untuk dijalani
dilangkah kita berikutnya. Jadi
mau tak mau kita harus tetap
hidup kalau memang mau
terus hidup dan tak memilih
mati ditempat. Percayakan
kesedihanmu pada Tuhan.
Karena hanya DIA yang paling
memahami urusan kita.

~Kita boleh merasa kehilangan, asal jangan sampai kehilangan jati diri dan kehilangan nurani, sehingga kita merasa asing terhadap diri sendiri.

By Budijava Rhagagaz

01 Mei 2011

Menikmati Kepahitan Hidup


~ Pengurbananku, kebaikanku, keikhlasanku kadang berbuah pahit, namun aku tidak akan berhenti berhenti berbuat kebaikan. Karena setiap perbuatan adalah pilihanku dan aku tahu resikonya.

~ Akan kulakukan segalanya untuk keluargaku atau bagi siapa saja yang kuanggap keluargaku. Aku tak butuh pernyataan, penghargaan, atau pujian atas segala pengorbanan dan kebaikanku. Itu semua sudah pilihan hidupku.

~ Aku terbiasa hidup dalam kepahitan, dan aku bisa menikmatinya. Aku pernah terpuruk dan berada di titik nadir kehidupan. Namun aku tidak luluh lantak. Aku tetap selalu bisa menikmati hidup, seburuk apapun situasinya.

~ Bila hati dan pikiran kita masih bisa tergetar dan takjub dalam penderitaan dan kepahitan berarti kita masih berjiwa. Nikmati kepahitan hidup ini seperti saat kamu menikmati kemanisan dan kesenangan.

By Budijava Rhagagaz

23 April 2011

Inkonsistensi


~ Mengapa untuk satu masalah ini aku sering tidak konsisten? Ambigu dan dilematis. Selalu mengambang di antara ego pribadi dan pertinbangan hati nurani.

~ Aku tidak mau kalau egoku ditindas ego orang lain. Nanun di lain pihak visi hati nuraniku mengarahkan dan mengisyaratkan aku harus mengalah demi kebaikan semua. Ah begitu sulit aku memutuskan, sehingga aku jadi tidak konsisten.

~ Melihat keangkuhanmu (yang semu) aku kadang merasa bahwa aku lebih angkuh dan lebih tegar darimu. Namun aku sering merasakan kesedihanmu, kesendirianmu, kemarahanmu, kegalauan hatimu bahkan kebencianmu (yang semu). Why?

~ Perlu kejernihan logika untuk mengurai benang kusut ini. Ini bukan perkara menang kalah. Ini adalah pertaruhan kepribadian. Mengalah bukan berarti kita kalah. Kadang kita harus mundur satu langkah untuk melompat ke depan. Tidak konsisten demi kebaikan bukan berarti
tidak berprinsip. Memang harus realistis dan pragmatis. Oke don't give up !
By Budijava Rhagagaz